Menjadi Guru Inspiratif yang Dirindukan Anak
“Kehadiran seorang guru yang dapat mencerahkan dan membahagiakan anak maka layaklah kiranya kita menyambut guru yang seperti itu dengan sebutan “Selamat Datang Para Guru Masa Depan yang Luar Biasa”
Guru merupakan salah satu agen perubahan dan ujung tombak kemajuan bangsa dan negara. Keberadaannya memegang peranan sentral dalam kehidupan ini. Profesi guru telah melahirkan berbagai bidang keahlian dan profesi yang dibutuhkan dalam kehidupan kita mulai dari Presiden, Menteri, dokter, Arsitek, Ilmuan, dan lain-lain. Selain telah melahirkan beragam keahlian diberbagai bidang, tugas terberat seorang guru adalah terletak pada fungsinya dalam mendidik murid-muridnya agar memiliki karakter yang mulia dan mampu mengaktualkan seluruh potensi anak didik menjadi aktual.
Oleh sebab peranannya yang begitu mulia dan berat maka profesi guru mempunyai kedudukan yang sangat mulia dan terhormat, maka sudah selayaknya guru mendapatkan perhatian lebih dan penghargaan agar ia bisa lebih berkonsentrasi dan nyaman dalam menjalankan tugasnya yang berat. Perhatian dan penghargaan yang diberikan dalam upaya untuk memuliakan guru dan menempatkan pada tempatnya yang layak dan terhormat. Karena anak didik tak akan mampu menjadi tumbuh-berkembang serta berhasil dalam kehidupannya tanpa bantuan dan sentuhan seorang guru.Dalam satu istilah guru adalah seorang yang diguru dan ditiru, segala ucapan dan tingkah lakunya menjadi contoh untuk murid-muridnya maka dari itu guru dituntut untuk senantiasa menjaga segala tutur kata dan prilakunya jangan sampai terjerumus pada hal-hal negatif yang bisa merusak nama baik sebagai guru. Dalam proses pembentukan karakter mulia anak disekolah merupakan tugas terberat dan perkara yang tidak mudah. Selain peran orang tua di rumah, guru memiliki peran dan ikut bertanggung jawab untuk membimbing anak didik untuk memiliki karakter mulia. Maka seorang guru dituntut sudah selayaknya harus menujukkan sebagai sosok pribadi yang matang, berkepibadian stabil, tidak emosional, dan berkarakter mulia. Disitulah tugas berat seorang guru untuk selalu menjadi contoh teladan yang baik untuk murid-muridnya.Dalam ilmu Tarbiyah Wataklim disebutkan bahwa "Ath-thoriqatu ahammu minal maddah. Wal mudarris ahammu minat thoriqah. Wa ma ahammu minal mudarris. Ruhul mudarris ahammu min mudarris binafsihi". Maksudnya adalah metode lebih penting dari pada materi. Dan guru lebih penting daripada metode itu sendiri. Dan yang lebih penting dari semua adalah ruh dari guru itu sendiri.Dari pernyataan diatas dapat simpulkan bahwa hal paling penting dalam sebuah penyelenggaraan Pendidikan adalah keberadaan seorang guru yang mempunyai ruh, Namun guru tentu tidak boleh menampikkan dan melalaikan hal lainnya seperti metode, materi, dan motivasinya merupakan rangkaian yang tak terpisahkan. Kehadiran searang guru yang memiliki ruh sangat menentukan keberhasilan anak didiknya dalam mencerdaskan dan mendidik murid-muridnya agar memiliki karakter yang mulia.Ruh para pendidik merupakan cerminan semangat dan motivasi atas pilihannya untuk mengambil jalan sebagi guru. Ruh dari guru inilah yang lebih penting dari keberadaan guru itu sendiri. Keberadaan guru yang tidak memiliki ruh sebagai guru maka keberadaannya belum sempurna.Seorang guru yang memliki ruh setidaknya memiliki tujuh karakter sebagai berikut yaitu:1. Memiliki rasa cinta ( Love )Semua tindakan dan dorongan atas perbuatan yang dilakukannya semata-mata berangkat dari rasa cinta (kasih sayang) semata. Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik ia akan mendidik dengan penuh rasa cinta, ia mencoba mempraktikan berakhlak dengan akhlak Allah yakni meniru asmaul husna ar-rahman dan ar-rahim (Maha pengasih dan penyayang) bahkan dalam memberikan sanksi tidak akan keluar dari rasa cinta kepada siswanya bukan atas dasar dendam dan kebenciaan. Sanksi yang diberikan guru kepada muridnya sebagai bentuk kasih sayang agar muridnya menyadari kesalahannya dan tidak terjerumus pada tindakan yang salah. Ia akan mendisiplinkan anak dengan menerapkan disiplin positif. Seorang guru tidak akan mudah marah karena hal yang sepele dan tidak penting, bahkan ia tidak menyimpan sedikitpun rasa benci dalam hatinya. Ia selalu berusaha memperlakukan murid-muridnya dengan sebaik-bainya, Ia sangat mengharapkan agar semua murid-muridnya menjadi manusia yang cerdas, berhasil dan memiliki akhlak yang mulia. 2. Enjoy dalam mengajar (senang saat mengajar)Dalam menjalankan tugasnya sebagai guru ia tidak merasa terpaksa dan tidak pernah mengeluh, ia betul-betul menikmati setiap langkah yang dilewatinya. Ia menjalankan tugasnya sama dengan menjalankan hobi yang paling disukainya. Ia juga menyadari bahwa pengajaran yang baik harus dalam kondisi yang menyenangkan maka ia akan berusaha untuk menciptakan suasana pembelajaran fun dan menarik.Guru yang enjoy dalam mengajar maka ia akan enjoy dan semangat dalam mengajar, ia tidak peduli betapapun berat dan sulit dalam menjalankan tugasnya. Maka tidaklah heran jika kita lihat beberapa guru di pelosok daerah yang rela bertugas di pedalaman dengan medan yang berat dan jarak puluhan kilometer untuk sampai ke sekolah, bahkan ada seorang guru di sebuah pulau terpencil yang harus berenang untuk mengajar murid-muridnya, tetapi mereka tidak pernah mengeluh dan tetap semangat dalam mengajar murid-muridnya.
3. Bertumbuh-kembang (guru pembelajar)Seorang guru yang bertumbuh-kembang adalah seorang guru pembelajar, ia selalu menyadari akan kekurangan dirinya maka ia akan terus berusaha untuk terus belajar sepanjang hayat, berusaha meng-upgade dirinya untuk terus bertumbuh, menambah ilmu pengetahuan yang dapat meningkatkan kemampuan dirinya sebagai guru.Ia menyadari untuk melakukan sebuah perubahan yang lebih baik maka harus memulai dari dirinya sendiri, ia juga menyadari agar bisa memperbaiki moral orang lain secara efektif maka harus dimulai dari memperbaiki moral diri sendri terlebih dahulu. Dan ia akan menjadi tauladan yang baik dalam hal ilmu, kesalehan, dan moral bagi murid-muridnya. Ia akan berusaha untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam bidang pengajaran, membuat karya-karya yang kreatif yang bisa merangsang anak untuk semangat dalam belajar.
4. Bekerja secara profesionalSeorang guru professional adalah guru yang menguasai berbagai bidang keahlian yang menjadi tuntutan dalam bidang pekerjaannya, seperti menguasai ilmu mengajar, psikologi anak, seni mengelola kelas, bagaimana metode dan strategi belajar, bagaimana dalam evalausi belajar, dan hal-hal yang terkait dengan pendidikan. Setidanya ada tiga hal yang dikuasainya, seperti: 1). Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems). 2). Guru sebagai pelaksana (organizer), yang harus dapat menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, dimana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person), konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems). 3). Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement), atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan, baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya.
5. Memberikan makna lebih dalam pekerjaannyaDalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru ia akan memberikan makna yang lebih dalam, ia kan berusaha secara maksimal dalam menjalankan profesinya, ia tidak asal-asalan sebatas hanya menjalankan tugas dan kewajibanya sebagai guru demi menunaikan hak dan kewajibannya semata. Ia tidak terjebak dengan rutinitas pekerjaaanya, tetapi ia berusaha betul betul mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan melakukan tugasnya penuh tanggungjawab. Ia mempersiapan dan membekali siswa-siswanya agar menjadi anak yang cerdas, terampil dan memiliki karakter yang baik dan mendoakan agar murid-muridnya berhasil dan sukses di masa depannya,
6. Care dan empati pada murid-muridnyaDalam menjalankan tugasnya ia memiki rasa kepedulian yang tinggi pada seluruh murid-muridnya, ia memberikan perhatian yang tulus kepada murid-muridnya, ia tidak menginginkan ada murid-muridnya yang merasa sedih karena tidak bisa menerima pelajaran dengan baik darinya, ia selalu merespon pembicaraan atau pertanyaan anak didik, selalu berusaha memberikan perhatian kepada setiap muridnya tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Ia memeiliki kepedulian yang tinggi akan kemajuan dan perkembangan anak didiknya.
7. Ikhlas dalam Bekerja.Ia menyadari bahwa dalam bekerja ia harus ihklas karena Allah SWT semata, sehingga ia akan berusaha sekuat tenaga menjalankan tugasnya dengan selalu ikhlas karena Allah semata. Tujuan utamanya adalah mencari ridhanya Allah SWT. Maka tidaklah heran jika kita lihat beberapa guru di pelosok daerah yang rela bertugas di pedalaman dengan medan yang berat dan jarak puluhan kilometer untuk sampai ke sekolah tetapi mereka tidak pernah mengeluh dan tetap semangat dalam mengajar murid-muridnya. Mungkin inilah semangat keihlasan yang tersimpan di hati guru-guru yang luar biasa.Demikian beberapa kriteria guru yang kiranya dapat Mencerahkan dan Membahagiakan Anak, tetapi kiranya bukan hanya tujuh kriteria saja, ini hanya berdasarkan pemikiran penulis saat ini saja. Jadi ketika seorang guru mampu memiliki kriteria-kriteria di atas maka insya Allah di masa yang akan datang anak-anak akan tampil dengan performa yang maksimal dan akan melahirkan generasi yang cerdas, terampil, dan memiliki akhlak yang mulia. Dan akhirnya anak-anak bisa tampil cemerlang dalam kehidupannya kelak. Kehadiran seorang guru yang dapat mencerahkan dan membahagiakan anak maka layaklah kiranya kita menyambut guru yang seperti itu dengan sebutan “Selamat Datang Para Guru Masa Depan yang Luar Biasa”(NS)
Guru merupakan salah satu agen perubahan dan ujung tombak kemajuan bangsa dan negara. Keberadaannya memegang peranan sentral dalam kehidupan ini. Profesi guru telah melahirkan berbagai bidang keahlian dan profesi yang dibutuhkan dalam kehidupan kita mulai dari Presiden, Menteri, dokter, Arsitek, Ilmuan, dan lain-lain. Selain telah melahirkan beragam keahlian diberbagai bidang, tugas terberat seorang guru adalah terletak pada fungsinya dalam mendidik murid-muridnya agar memiliki karakter yang mulia dan mampu mengaktualkan seluruh potensi anak didik menjadi aktual.Oleh sebab peranannya yang begitu mulia dan berat maka profesi guru mempunyai kedudukan yang sangat mulia dan terhormat, maka sudah selayaknya guru mendapatkan perhatian lebih dan penghargaan agar ia bisa lebih berkonsentrasi dan nyaman dalam menjalankan tugasnya yang berat. Perhatian dan penghargaan yang diberikan dalam upaya untuk memuliakan guru dan menempatkan pada tempatnya yang layak dan terhormat. Karena anak didik tak akan mampu menjadi tumbuh-berkembang serta berhasil dalam kehidupannya tanpa bantuan dan sentuhan seorang guru.
Paradigma Pendidikan Masa Depan
Pendidikan adalah proses yang sangat penting di dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, setiap manusia belajar seluruh hal yang belum mereka ketahui. Bahkan dengan pendidikan, seorang manusia dapat memaksimalkan potensi yang dimilikinya, melahirkan seorang yang berilmu dan berahklak mulia, yang dapat menjadi wakil (khalifah) Allah di bumi ini.Sebuah lembaga pendidikan yang melahirkan output yang pintar sangat banyak kita temui di negeri ini, tetapi sebuah lembaga pendidikan yang melahirkan output yang pintar dan sekaligus berakhlak mulia itu sulit dan jarang kita temui, model pendidikan yang pertama itu biasa tapi yang kedua itulah yang luar biasa. Terdapat perbedaan hasil output yang sangat mendasar antara model pendidikan pertama dengan model yang kedua dilihat dari sisi kebermanfaatannya bagi masyarakat sekitar. Orang yang pintar saja di negeri ini sangat banyak, akhirnya seringkali dengan kepintaran yang dimiliki seseorang tanpa dibarengi akhlak mulia malah membodohi orang, melakukan penyelewengan dan kecurangan-kecurangan, maka tidak mengherankan jika banyak orang pintar tetapi korupsi, orang pintar tapi menipu orang lain. Hal ini disebabkan dari model pendidikan yang hanya melahirkan orang pintar saja tapi tidak memiliki integritas moral yang baik. Sebuah model pendidikan yang baik harus mampu melahirkan output yang pintar dan berakhlak mulia. Inilah tantangan terberat dari sebuah lembaga pendidikan kedepan.Jika kita telusuri dan analisis lebih dalam, kenapa kedua model ini menghasilkan output yang berbeda? Dan kenapa hal ini bisa terjadi atau Apa yang menyebabkan timbulnya perbedaan kedua model pendidikan diatas? Menurut hemat penulis hal ini dikarenakan beberpa alasan yaitu :Pertama, adanya perbedaan paradigma filosofis dari kedua model pendidikan di atas dalam memandang manusia. Kenapa harus berangkat dari cara pandang kita terhadap manusia? Hal ini dikarenakan yang menjadi obyek dan subyek pendidikan adalah manusia itu sendiri. Bagaimanapun juga sudut pandang yang benar terhadap konsep manusia adalah langkah awal untuk masuk ke dalam konsep pendidikan yang tepat. Cara pandang terhadap manusia yang utuh sangat diperlukan untuk merancang dan mengelola pendidikan yang baik. Mari kita bahas dari model pendidikan yang pertama, model pendidikan yang hanya melahirkan orang pintar saja tanpa ahlak mulia, hal ini berangkat dari sebuah paradigma matrealisme dalam memandang manusia dan pendidikan, dimana pandangan dunia matrelaisme melihat manusia secara tidak utuh dan menyeluruh dan hanya memandang manusia dari asfek jasmaniah atau sisi materinya semata, pandangan dunia matrealisme yang tidak mengakui asfek ruhani atau spiritual manusia karena hal tersebut dianggap tidak real atau exsis, karena urusan ruhani atau spiritual tidak bisa diverifikasi dan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Dalam hal ini, pandangan tersebut telah mengelurkan manusia dari lingkar eksistensinya yang sejati sebagai makhluk ruhani. Pandangan dunia matrelaisme yang menomor satukan materi diatas segala- galanya, dan tidak mengakui adanya Tuhan sebagai pencipta manusia, dengan pandangan tersebut telah mencerabut manusia dari sisi kemanusiaannya, maka konsekuensinya akan meminggirkan nilai-nilai moral dan ajaran agama dari manusia sebagai petunjuk Tuhan agar manusia berada pada jalan yang benar, maka dengan dipinggirkannya nilai-nilai moral dan ajaran agama maka bagaimana bisa membentuk manusia menjadi makhluk yang utuh dan sempurna. Orientasi utama penyelenggaraan pendidikan dalam pandangan dunia matrealisme hanya mengejar asfek lahiriah semata untuk membentuk manusia yang pintar saja, dan fokusnya adalah keuntungan material saja, tidak ada urusan lagi dengan tujuan mulia untuk menjadikan manusia yang berahklak mulia. adanya institusi pendidikan didirikan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar semata, mengejar profit yang tinggi, mencetak para lulusan yang memenuhi standar pasar industri, mengejar gengsi yang tinggi, dan popularitas. Maka dengan tujuan seperti ini tidaklah heran jika banyak lembaga pendidikan yang hanya mampu mencetak orang yang pintar saja tapi tidak punya intergritas moral dan berakhlak mulia.Kedua, model pendidikan yang melahirkan orang pintar dan berahlak mulia, hal ini berangkat dari sebuah model pendidikan yang menganut faham pandangan dunia ketuhanan dalam memandang manusia, dimana model ini memandang manusia secara utuh dan menyeluruh, melihat manusia dari dua asfek yakni asfek jasmaniah dan asfek ruhaninya. Model pendidikan yang kedua ini mengakui adanya Tuhan sebagai pencipta manusia, dan mengakui sisi spiritualitas atau ruhani manusia disamping asfek jasmaninya, dengan pandangan dunia seperti ini maka konsekuensinya akan mengapresiasi nilai-nilai moral dan ajaran agama dari manusia sebagai petunjuk Tuhan agar manusia berada pada jalan yang benar, maka dengan apresiasi terhadap nilai-nilai moral dan ajaran agama maka manusia akan terjaga untuk menjadi makhluk yang utuh dan sempurna. Orientasi utama penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadikan manusia yang pintar saja dan keuntungan material semata, tetapi tujuan yang paling utamanya adalah untuk menjadikan manusia sebagai manusia sejati, menjadikan manusia sesuai dengan fitrahnya yang suci yaitu cinta dan mencapai kebenaran serta untuk mencapai akhlak yang mulia. Dan tujuan utamanya adalah untuk mencapai kebahagian lahir dan batin, dunia dan akhirat.Maka tugas berat para ahli, peneliti, pemangku kebijakan dan masyarakat untuk membuat sebuah model pendidikan yang mampu memandang manusia secara utuh dan menyeluruh, menempatkan manusia pada sisi kemanusiannya, mengoptimalkan potensi manusia sesuai dengan fitrahnya, mengembangkan asfek kognitif, afektif dan psikomotorik anak didik, dan menciptakan model pendidikan yang melahirkan manusia yang bahagia dunia dan akhirat.
Pendidikan adalah proses yang sangat penting di dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, setiap manusia belajar seluruh hal yang belum mereka ketahui. Bahkan dengan pendidikan, seorang manusia dapat memaksimalkan potensi yang dimilikinya, melahirkan seorang yang berilmu dan berahklak mulia, yang dapat menjadi wakil (khalifah) Allah di bumi ini.Sebuah lembaga pendidikan yang melahirkan output yang pintar sangat banyak kita temui di negeri ini, tetapi sebuah lembaga pendidikan yang melahirkan output yang pintar dan sekaligus berakhlak mulia itu sulit dan jarang kita temui, model pendidikan yang pertama itu biasa tapi yang kedua itulah yang luar biasa. Terdapat perbedaan hasil output yang sangat mendasar antara model pendidikan pertama dengan model yang kedua dilihat dari sisi kebermanfaatannya bagi masyarakat sekitar. Orang yang pintar saja di negeri ini sangat banyak, akhirnya seringkali dengan kepintaran yang dimiliki seseorang tanpa dibarengi akhlak mulia malah membodohi orang, melakukan penyelewengan dan kecurangan-kecurangan, maka tidak mengherankan jika banyak orang pintar tetapi korupsi, orang pintar tapi menipu orang lain. Hal ini disebabkan dari model pendidikan yang hanya melahirkan orang pintar saja tapi tidak memiliki integritas moral yang baik. Sebuah model pendidikan yang baik harus mampu melahirkan output yang pintar dan berakhlak mulia. Inilah tantangan terberat dari sebuah lembaga pendidikan kedepan.Jika kita telusuri dan analisis lebih dalam, kenapa kedua model ini menghasilkan output yang berbeda? Dan kenapa hal ini bisa terjadi atau Apa yang menyebabkan timbulnya perbedaan kedua model pendidikan diatas? Menurut hemat penulis hal ini dikarenakan beberpa alasan yaitu :
Sekolah Masa Depan yang Membahagiakan Anak
Setiap orang tua tentu menghendaki anak-anaknya bisa bahagia lahir dan batin. Menginginkan anak-anaknya selalu ceria, penuh canda tawa dan tidak merasa terbebani atas semua persoalan kehidupan ini. Termasuk di dalamnya setiap orang tua menginginkan Pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya, sekolah yang berkualitas baik dan membahagiakan buat putra putrinya. Dimana, ketika anak-anak berangkat sekolah penuh semangat menggelora, mampu belajar dengan maksimal, dan ketika pulang ke rumah tetap tersenyum penuh kepuasan. Itu semua adalah idealisme dan harapan setiap orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya, oleh sebab itu orangtua akan mencari lembaga pendidikan yang baik dan berkualitas dimanapun dan berapapun biayanya.
Salah satu fungsi lembaga Pendidikan adalah menjadikan anak bahagia lahir dan batin. fungsi ini tentunya adalah salah satu persoalan yang paling penting sekaligus paling sulit dicapai karena tidak semua lembaga pendidikan mampu menjadikan anak didiknya bisa bahagia lahir dan batin.
Beberapa indikator sebuah lembaga pendidikan dikatakan mampu membahagiakan anak adalah anak merasa betah dan nyaman ketika tinggal di sekolah, anak bisa betah berlama-lama tinggal disekolah, anak-anak seolah menemukan sebuah dunianya yang sangat menyenangkan, sampai-sampai anak agak sulit apabila diminta kembali pulang ke rumahnya. Hal ini dikarenakan anak merasa nyaman dan bahagia ketika berada di lingkungan sekolah, anak sangat antusias ketika mereka akan berangkat sekolah, dan tidak akan susah untuk pergi ke sekolah karena dalam diri anak sudah terbentuk satu image baik tentang sekolah yang akan ditujunya, bahkan anak akan merasa sangat bosan ketika harus libur panjang di rumah, apalagi saat ini ketika terjadi pandemic covid -19 di seluruh dunia, dimana anak anak dipaksa harus belajar di rumah dengan sistem belajar online yang terkadang membosankan maka mereka seperti kehilangan dunianya yang menyenagkan.
Pertanyaannya kenapa anak bisa merasa betah dan nyaman ketika tinggal di sekolah? ada beberapa hal-hal yang menjadikan anak bisa merasa betah dan nyaman ketika tinggal di sekolah seperti :
a. Lingkungan sekolah yang bersih dan asri
Lembaga Pendidikan yang baik harus mampu menciptakan Susana sekolah yang bersih dan asri. Anak-anak akan merasa lebih baik dan senang Ketika berada di lingkungan yang sejuk, banyak pohon pohonan tempat berteduh dan bersih dari kotoran sampah. Dan Orang tua juga senang menyekolahkan anak-anaknya di tempat yang bersih dan terjaga keasriannya. Sebuah Lembaga Pendidikan yang lingkungannya kotor, jorok maka sudah pasti tidak akan diminati dan akan tutup.
b. Susana sekolah yang aman, nyaman dan jauh dari bulliying
Lembaga Pendidikan yang baik harus mampu menciptakan Susana sekolah yang aman, nyaman dan jauh dari bulliying. Anak-anak harus terhindar dari rasa kekhawatiran dan ketakutan yang disebabkan oleh suasana sekolah yang tidak aman dan nyaman seperti : adanya pelaku bulliying yang bebas berkeliaran, adanya perkelahian pelajar, banyaknya hukuman yang diberikan sekolah kepada anak-anak, guru yang killer, dan hal hal lain yang membuat anak tidak merasa aman dan nyaman tinggal di sekolah.
c. Proses belajar mengajar yang menyenangkan yang tidak membosankan
Lembaga Pendidikan yang baik harus mampu menciptakan proses belajar mengajar yang menyenangkan yang tidak membosankan, Lembaga Pendidikan selalu melakukan berbagai macam inovasi-inovasi baru dalam bidang kurikulum pendidikan yang kreatif baik dalam hal metode pengajaran, strategi, KBM, evaluasi dan lain-lainya. Ketika anak-anak belajar akan merasakan sebuah pengalaman belajar yang menyenangkan jauh dari stress dan tekanan, anak-anak merasa sedang bermain padahal dalam sebuah proses belajar mengajar di sekolah. sebagai contoh anak-anak diberikan pembelajaran dengan berbasis proyek atau berbasis masalah (Problem Based Learning), anak-anak secara tidak sadar belajar banyak hal dari proyek-proyek itu. Sebuah contoh Ketika anak-anak belajar tentang hewan dengan model PBL, anak-anak diajak untuk mengamati secara langsung apa yang akan mereka pelajari terus mencari persoalan atau masalah yang ada, kemudian anak-anak mencoba mediskusikan mencari tahu bagaimana mengatasi persoalan yang timbul tersebut lalu terakhir anak-anak diminta maju dihadapan teman-temanya untuk bercerita atau mempresentasikan tentang kejadian yang dialaminya. Dari model ini, anak-anak mendapatkan banyak hal, antara lain pengalaman praktik langsung (eksperimen), mampu menganalisa suatu persoalan, mencari solusi atas sebuah persoalan, berlatih diskusi dan berkolaborasi, dan keberanian bicara di depan oranng lain. Sama halnya Ketika belajar bidang Agama, tidak melulu berbica tentang hafalan ayat dan mengahafal konsep sifat-sifat baik. Tetapi, lebih dari itu yang dinginkan anak-anak mampu melakukanya, bagaimana ketika belajar Agama mampu membangkitkan kesadaran untuk berbuat sesuai ajaran agama dan mampu mempraktikan dalam kehidupan sehai-hari.
Selanjutnya anak-anak tidak dibebani dengan jadwal pelajaran yang ketat, materi pelajaran yang terlalu banyak dan harus menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) yang banyak, sehingga anak-anak kehilangan waktu berharganya untuk bermain dan berkumpul dengan keluarga.
d. Waktu istirahat yang cukup
Waktu istirahat yang cukup buat anak sangat diperlukan oleh anak dan hal tersebut adalah suatu hal yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Waktu istirahat adalah sebuah momen yang istimewa buat anak-anak, dimana waktu tersebut digunakan untuk bercengkrama dengan teman-teman lainnya, waktu bermain yang asyik dengan teman-teman, dan juga waktu jajan dikantin sambal ngobrol bebas tentang berbagai tema yang menyenangkan. Mereka akan merasa rugi dan protes apabila waktu bermainya dikurangi apalagi sampai ditiadakan. Waktu istirahat adalah satu keasyikan sendiri bagi anak-anak sekolah apalagi di sekolah yang terlalu akademik oriented yang dipenuhi tugas-tugas yang banyak.
e. Guru-guru yang ramah dan penuh perhatian
Guru-guru dalam Lembaga Pendidikan yang baik harus menyadari sepenuhnya bahwa semua dorongan atas perbuatan dan tindakan yang dilakukannya semata-mata berangkat dari rasa cinta (kasih sayang) semata. Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik maka ia akan mendidik dengan penuh rasa cinta, ia mencoba mempraktikan berakhlak dengan akhlak Allah, meniru asmaul husna ar-rahman dan ar-rahim (Maha pengasih dan penyayang) bahkan dalam memberikan sanksi tidak akan keluar dari rasa cinta kepada siswanya bukan atas dasar dendam dan kebenciaan. Sanksi yang diberikan guru kepada muridnya sebagai bentuk kasih sayang agar muridnya menyadari kesalahannya dan tidak terjerumus pada tindakan yang salah. Guru akan mendisiplinkan anak dengan disiplin yang positif.
Guru tidak akan mudah marah karena hal yang sepele dan tidak penting, bahkan ia tidak menyimpan sedikitpun rasa benci dalam hatinya. Ia sangat mengharapkan agar semua murid-mudidnya menjadi manusia yang cerdas, berhasil dan memiliki akhlak yang mulia.
Dalam menjalankan tugasnya guru yang baik memiki rasa kepedulian yang tinggi kepada seluruh murid-muridnya, ia memberikan perhatian yang tulus kepada murid-muridnya, ia tidak menginginkan ada murid-muridnya yang merasa sedih karena tidak bisa menerima pelajaran darinya, ia selalu merespon pembicaraan atau pertanyaan anak didik, selalu berusaha memberikan perhatian kepada setiap muridnya tanpa membeda-bedakan satu sama lain.
f. Lingkungan bermain yang menyenangkan
Tidak dipungkiri bahwa dunia anak adalah dunia bermain, anak-anak akan merasa bahagia apabila di tempat mereka menimba ilmu terdapat aneka bermain yang menyenangkan seperti ada playground, area taman bermain, perpustakaan, mini fishery, mini farming, dan lain-lain. Maka Lembaga Pendidikan yang baik harus mampu menyediakan sebuah Lingkungan bermain yang menyenangkan bagi anak-anak. Sebuah Lembaga Pendidikan yang gersang, sempit, kotor dan tidak menyiapkan lingkungan bermain yang menyenangkan buat anak maka sudah pasti tidak akan diminati dan akan tutup.
Demikian beberapa hal yang membuat anak bisa bahagia Ketika berada di lingkungan sekolah. Kebahagiaan tidak hanya diukur oleh seberapa besar capaian-capain kesuksesan materi yang di dapat, tetapi anak-anak adalah makhluk yang unik penuh dengan teka teki, masa depanya penuh dengan misteri. Tidak ada satupun orang tua di dunia ini mampu memprediksi secara akurat anak-anaknya akan menjadi apa dan seperti apa. Lantas seberapa penting kita sebagai orang tua mampu menyiapkan ini semua untuk kebahagiaannya. Minimalnya orang tua bisa memilihkan sekolah yang tepat buat anak-anak, sekolah bisa membuat anak-anak bahagia. Lembaga Pendidikan sudah seharusnya memiliki visi dan misi untuk mendukung anak-anak tetap aman, nyaman, dan bahagia. Bagaimana menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan menyenangkan jauh dari tekanan dan stress.
Sebuah lembaga Pendidikan harus berupaya untuk menyelenggarakan program-program pendidikan yang berorientasi kepada sekolah yang berupaya dalam membahagiakan anak dengan selalu memperhatikan kriteria kriteria yang sudah diuraikan di atas. Ketika Lembaga Pendidikan menjadi sekolah yang mebahagiakan bagi anak-anak hampir bisa dipastikan, di masa yang akan datang anak-anak akan tampil dengan performa yang maksimal dan akhirnya anak-anak bisa tampil cemerlang dalam kehidupannya kelak. Layaklah kiranya kita menyambut anak-anak kita dengan mengatakan “Selamat Datang di Sekolah yang Membahagiakan”. ( NS )


